Kasih Sayang di Mama Kota

By: Padrev
Haii… Perkenalkan, aku Janu, seorang mahasiswa baru asal negeri yang jauh di ujung timur bumi pertiwi. Btw, Sudah sebulan aku menjejaki kakiku di kota yang panas, penat, dan kaya akan polusi ini. Kota yang dipuja dan diimpikan oleh setiap anak dari kampung pelosok. Kota yang kata sebagian kritikus sebagai markasnya tikus-tikus kantor. Sayangnya, tidak semua orang tahu sisi gelap kota ini.
Barisan gedung pencakar langit mungkin menjadi keunggulan kota ini. Indahnya hanya tampak saat malam hari, selebihnya biasa saja bahkan memicu rasa kesal. Mengapa? Panasnya buat gerah dan sepertinya udara di sini tidak sehat. Bisa jadi usia penghuninya pun tidaklah lama. Lebih banyak angka kematian ketimbang angka kelahiran, sekalipun tidak terlalu jauh perbedaannya.
Mama kota, 14 Februari 2020. Virus corona semakin ganas menular kemana-mana di dunia ini. “Wuhan memang pembawa sial bagi dunia”, kira-kira seperti itu komentar dari para pembenci virus sialan itu. Bagaimana tidak? Semua manusia di kota ini wajib mengenakan masker bak nakes di berbagai Rumah Sakit. Social distancing, work from home, study from home, ibadah live streaming, dan lain-lain yang serba home. Sungguh membosankan.
Hari itu tidak seramai sebelum virus aneh itu tiba. Aku melangkah perlahan menyusuri lorong stasiun. Kereta melaju kencang dari arah stasiun Gambir. Ia berhenti perlahan dan tidak lama.
“Para penumpang tujuan stasiun Tangerang segera naik!”, kurang lebih begitu pengumuman dari petugas via pengeras suara.
Aku pun melangkahkan kaki lebih cepat untuk masuk ke dalam gerbong kereta guna mendapat tempat duduk. Ketersediaan tempat duduk sangat minim, karena sebagian telah diberi tanda silang sebagai penanda jarak antarpenumpang. Tempat dudukku persis di samping pintu. Pilihan yang tepat agar lebih cepat turun nantinya.
Selama perjalanan, aku hanya tertunduk sembari menutup kepalaku dengan jaket hitam yang belum lama ini aku beli di Pasar Senin, Jakarta. Alunan lagu “bebas” Kang Iwa K menemani perjalananku. Headset kesayangan selalu berguna temani perjalananku.
Sudah tinggalkan
Tinggalkan saja semua persoalan
waktu kita sejenak membebaskan pikiran
Lirik awal lagu dengan wejangan sederhana, tetapi meneguhkan. Sayangnya, persoalan terlampau banyak di tengah kota yang riuh ramai ini. Corona bagai racun yang kapan saja bisa merenggut nyawamu sesuka hati.
“Bang, permisi!”, sapa seorang Ibu yang sedang berdiri di hadapanku sembari menggendong buah hatinya.
“Iya, ada apa, Bu?”, tanyaku sembari melepaskan headsetku.
“Bolehkah, kami duduk di situ? Kami tidak kebagian tempat duduk”, ucap Ibu itu sembari menatapku penuh harap.
Sebenarnya, perjalanan menuju stasiun terakhir masih cukup jauh. Nyamannya tempat duduk, heningnya ruang itu cukup membuatku betah dan tak mau meninggalkannya. Namun, ada yang meminta tempat nyaman itu. Agak sedikit menggerutu dalam hati, tetapi apa boleh buat? Setan memang mudah dikalahkan hanya jika ruang hati menjadi tempat spesial bagi Sang Cinta.
“Baiklah Ibu, silahkan duduk!”, kataku kepada Ibu itu usai beberapa detik memikirkan apakah harus memberinya tempat ini atau cuek dan mengabaikannya.
“Terima kasih, ya Bang!”, ungkap Ibu itu dengan suara lembut.
Saat saling bertukar posisi, aku tidak sengaja melihat kaki bagian belakang Ibu itu. Perban yang sudah menguning menempel tepat di bagian betis kakinya. Sepertinya sedari tadi ia menahan sakit sambil berdiri dan menggendong anaknya. Perbannya cukup besar, dan benar saja darah kembali mengalir dan menggenang di ujung belakang sendal swallow biru itu.
“Bang, mau ini?”, tanya Ibu itu sambil menawarkan sebuah jagung rebus. Tawarannya memecah heningku yang sedari tadi memikirkan luka di kakinya.
“Aduh tidak apa-apa, Bu, terima kasih ya!” seruku menolak pelan.
Aku tahu, Ibu itu lebih membutuhkannya daripada aku. Sekalipun rasa lapar sudah menampar lambungku sedari tadi.
“Tidak apa-apa, Bang. Ambil saja, jagung ini cukup banyak di tas keranjang. Ini jagung khas Bogor. Enak loh, Bang!”, katanya yang terus menyodorkan jagung itu kepadaku.
“Baiklah, terima kasih, Bu!”, balasku sambil mengambil jagung itu dengan cukup hati-hati. Maklum masih cemas, lantaran virus corona masih berkeliaran bagai anak ayam kehilangan induknya.
Aku menyimpan jagung itu di tasku. Ibu itu pun kembali menyibukkan diri dengan menatap dan mengelus pipi si buah hati. Sepertinya baru berusia setahun. Putih dan imut. Bahagianya anak itu, bebas, hanya menerima, seakan bodoh amat dengan dunia yang sedang sakit ini.
Kereta perlahan mengurangi lajunya. Kami baru saja tiba di statiun Kalideres. Stasiun kedua dari terakhir.
“Bang, kami duluan, ya!”, kata Ibu itu sambil menggendong buah hati kesayangan yang super imut itu.
“Oh, Ibu turun di sini? Wah, akhirnya Ibu lebih dulu. Hati-hati, ya!”, balasku sambil melambaikan tangan dari jarak satu meter kepada anak mungilnya yang juga menoleh dan melihatku.
Tidak berselang lama, kereta kembali melaju menyusuri lorong-lorong sempit itu. Sempit lantaran ada perumahan dan gedung-gedung di sekitarnya. Lebih baik di kampungku, hijau hutan masihku lihat, sekalipun sebagian sudah digusur untuk perkebunan kelapa sawit para kapitalis. Kapitalis berkedok pemerhati rakyat. Omong kosong!
Tidak berselang lama, kereta berhenti tepat di stasiun akhir, Tangerang. Aku turun dan melangkah keluar stasiun. Dan seperti biasa ada barisan para pria bergaun pendek berias menor sedang mengamen, rasanya mereka sedang menggiring langkah para penumpang yang sedang berjalan keluar. Aku hanya tersenyum melihat mereka.
Ternyata begini hidup di Mama kota. Engkau bisa jadi apa saja, kerja apa saja asalkan bisa makan di hari itu. Bodoh amat dengan ocehan manusia yang merasa diri paling normal di dunia. Intinya hidup, hidup, dan entah kapan matinya. Intinya bisa makan!
Entah om, pak, tante, atau apalah sapaan mereka. Toh mereka kadang menolak jika disapa sesuai jenis kelamin. Agak kontradiksi tetapi begitulah penampakan di Kota besar ini.
Bagaikan anak kecil yang berlari bertelanjang
Bebas
Keluarkan suara canda tawa dan senyum puas.
Begitulah lirik lagu selanjutnya dari Iwa K, yang sedari tadi kuputar berulang kali sambil melihat fenomena di kota ini, entah unik atau aneh. Lagu yang bagus untuk perjalanan pulangku menuju rumah yang lumayan jauh dari arah stasiun. Aku memilih berjalan kaki. Rasanya rugi jika uang kupakai untuk memesan ojek online. Hidup di kota yang banyak sisi gelapnya, mesti menyimpan banyak uang. Jakarta memang keras! Ah, valentine day kali ini unik, bahkan aku hampir lupa kalau ini valday. Happy valentine day!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Musik Pipa Berpotensi Menjadi Ke...
Keteladanan Hidup Jauh Lebih Efe...
Gua Maria Seminari Petrus Van Di...
Renungan Mingguan (Minggu, 15 Ma...
Ibuku Seorang Pelacur dalam Nove...
Kasih Sayang di Mama Kota

Hubungi kami di :

Kirim email ke kami