Keteladanan Hidup Jauh Lebih Efektif Daripada Motivasi Kosong

P. Mechu
P. Mechu usai merayakan misa bersama anak-anak asrama SMP Seminari Petrus van Diepen
Pengalaman ketidakdisiplinan para seminaris dalam hidup berkomunitas menjadi hambatan yang cukup menggangu para formator dalam membina dan mendidik mereka. Sebut saja yang kerapkali terjadi tindakan ketidakdisiplinan (Indisipliner) para seminaris sering muncul saat momen tertentu misalnya saat jam kerja, jam belajar, dan jam doa, yang notabene ketiga aspek ini merupakan pusat aktivitas mereka dalam komunitas.
Berangkat dari pengalaman saya sendiri dalam menyikapi masalah indisipliner seperti ini, saya langsung tegas memberi sangsi. Sangsi adalah sarana yang digunakan untuk menyadarkan para seminaris bahwa tindakan tidak disiplin itu bisa merugikan diri sendiri dan sesama yang hidup dalam satu komunitas. Sangsi yang diberikan juga bervariasi sesuai dengan tingkat kesalahan yang dilakukan seminaris.
Saya menyadari bahwa ketidakdisiplinan itu menghambat seorang formandi untuk bertumbuh dan saya juga menyadari bahwa memberi sangsi memang penting sebagai aturan tetapi kadang-kadang tidak tepat sasar dan lagipula belum menjamin proses internalisasi nilai kepada seminaris untuk semakin sadar pentingnya hidup disiplin. Motivasi juga rupanya seringkali gagal untuk membentuk seminaris menjadi peribadi yang berdayaguna dan berintegritas. Maka salah satu pendekatan yang selalu relevan dalam ruang pembinaan adalah keteladanan hidup.
Keteladanan hidup yang baik mau tidak mau harus lebih dahulu ditunjukkan melalui sikap hidup seorang formator dalam komunitas. Memberi teladan bagi saya berarti menunjukkan kualitas hidup baik yang diwujudnyatakan dalam tindakan keseharian. Konkretnya jika saya menginginkan agar seminaris selalu disiplin dalam belajar, kerja dan doa; saya harus menunjukkan sikap itu terlebih dahulu. Keteladan merupakan wujudnyata dari peran seorang formator sebagai pendidik. Ketaladan hidup yang baik seorang formator adalah cara yang cukup efektif untuk pertumbuhan mental-moral dan kepribadian seminaris. Justru dengan keteladan hidup seorang formator menunjukkan sisi kemanusiaan yang real untuk menghantar para seminaris pada tujuan hidup yang mereka inginkan.
Menjadi teladan adalah bentuk yang paling nyata dalam mendidik dan membina para seminaris. Ketidakdisiplinan para seminaris sebenarnya juga ada faktor di mana mereka tidak menemukan sosok yang tepat untuk dijadikan sebagai model bagi mereka untuk hidup tertib dalam berkomunitas. Kerena itu mendidik dengan keteladanan hidup hemat saya merupakan salah satu pendekatan yang cukup efektif dalam memanusiakan manusia. Menukil kembali kata-kata yang pernah dikumandangkan oleh Aristoteles bahwa “Mereka yang mendidik anak dengan baik adalah lebih dihormati daripada mereka yang melahirkan mereka, karena hal tersebut memberi mereka kehidupan.
Maka keteladan hidup adalah pendekatan yang selalu relevan hingga saat ini bila dibandingkan dengan motivasi. Konsep keteladanan hidup memang bukan sesuatu yang baru namun tentang keteladanan hidup ini tidak segampang yang sering dibicarakan oleh para pendidiik di Komunitas Akademik. Menjadi teladan itu sifatnya konsisten, dalam setiap waktu setiap kegiatan dalam komunitas. Karena teladan hidup seorang formator yang konsisten itulah yang lebih cepat diterima dan diikuti oleh seminaris dibandingkan motivasi kosong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Musik Pipa Berpotensi Menjadi Ke...
Keteladanan Hidup Jauh Lebih Efe...
Gua Maria Seminari Petrus Van Di...
Renungan Mingguan (Minggu, 15 Ma...
Ibuku Seorang Pelacur dalam Nove...
Kasih Sayang di Mama Kota

Hubungi kami di :

Kirim email ke kami