Ibuku Seorang Pelacur dalam Novel “Sisi Tergelap Surga”

(P. Vian Arianto)
Setiap anak mencintai Ibunya, begitu juga sebaliknya. Yang tidak mencintai Ibu atau anaknya barangkali sedang kerasukan roh lucifer. Ibu tidak pernah berhenti bermimpi dan berusaha agar masa depan anak-anak jauh lebih baik dari apa yang ia alami. Ibu berharap agar buah hati tidak terjatuh dalam kubangan kotor dunia; pergaulan bebas, pencuri, perampok, dan begal. Apapun akan Ibu lakukan asalkan anak-anak tetap bahagia dan tersenyum setiap hari. Kisah tentang Ibu, Ujang, mimpi, luka, dan perjuangannya tertuang dalam novel “Sisi Tergelap Surga” karya Brian Khrisna.
Novel ini tergolong best seller alias laris manis. Salah satu hal yang menunjukkan bahwa novel ini laris manis ialah tingginya minat konsumen terhadap novel tersebut. Cetakan terbaru per Januari 2026 ialah cetakan ke 16, dengan jumlah yang terjual mencapai 8000 lebih eksemplar.
Salah satu chapter atau bagian dalam Novel yang panjangnya hingga 301 halaman ini berkisah tentang seorang Ibu dan buah hatinya, Juleha dan Ujang. Juleha tidak pernah bermimpi sebelumnya bahwa ia akan jatuh dan berdiam dalam kubangan kotor di salah satu sisi surga dalam waktu yang lama. Mimpinya sejak meninggalkan kampung halaman ialah bekerja di salon kecantikan hingga berhasil mendirikan usaha salon pribadi. Sayangnya, mimpi itu kandas! Kerasnya kehidupan di surga membuat mimpinya pudar.
Usai ditolak berkali-kali dan demi kebutuhan hidup yang rumit, ia terpaksa menjajakan dirinya. Melayani laki-laki yang tidak ia cintai adalah mimpi buruk seumur hidup. Hidup di Jakarta sekeras itu? Surganya para kaum marjinal yang berdomisili di kampung kala itu. Jakarta bak surga! Semuanya ada di sana.
Ujang si buah hati yang tidak pernah tahu siapa ayahnya, ia hanya bisa menerima kehidupan yang telah terberi. Bocah sekecil itu harus melewati malam-malamnya dengan posisi tidur menghadap tembok rumah yang kusam sembari menuntup telinga. Mengapa? Siapa pun dirimu, engkau tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya tidur di kamar, yang juga dipakai Ibu untuk melayani beragam laki-laki hidung belang setiap malamnya. Meskipun demikian, Ujang tidak pernah berhenti sejengkal pun untuk mencintai Ibunya dengan cinta yang besar dan tulus. Bocah kecil dengan sejuta mimpi, walaupun hidupnya tidak seindah mimpi-mimpi itu. Ia mencintai Ibu!
“Ibuku sebagai seorang pelacur, dan Ujang sayang Ibu!”, sebuah ungkapan sederhana, tetapi menoreh setiap hati (hlm. 77). Cinta si bocah malang untuk Ibu yang tidak pernah luput dari percikan liur warga kompleks yang merasa diri paling suci. Jakarta adalah surga dengan sejuta sisi gelap bagi mereka yang tidak mampu bersaing.
Novel ini mampu memprovokasi setiap pembaca! Bahasa yang sederhana, frontal, dan apa adanya. Judulnya pun menarik dan menarik rasa penasaran pembaca. Selain itu, penulis memposisikan setiap kata secara bebas dalam untaian kalimat agar setiap pembaca turut merasakan butiran-butiran rasa. Kalimat yang bebas dan bernas mengajak pembaca untuk hening sejenak, bahkan sesekali meneteskan air mata sembari berefleksi tentang hidup dan peliknya. Menariknya, Brian tak luput meninggalkan catatan-catatan kecil terjemahan dari bahasa Jawa yang ia gunakan. Selain itu, novel ini menyajikan sejuta nilai berahmat bagi setiap pembaca, khususnya kisah tentang Juleha dan Ujang. Kadang hidup tidak seindah mimpi dan pilihannya hanya satu yakni menjalaninya dengan cinta yang besar.
Tuhan pun tidak luput dari ribuan protes! “Apakah Tuhan masih mau mengabulkan doa para pelacur yang meminta rezeki untuk bertahan hidup? Sedangkan rezeki itu turun dari dosa yang diciptakan iblis”, (hlm. 70). Meksipun begitu, Tuhan ada! Ia selalu ada! Juleha menyadarinya, pembaca pun menyadarinya. Suatu karya sastra yang patut diacungi jempol.
Dari sekian banyak kekuatan yang diperlihatkan Brian Krisna, ada beberapa hal yang mesti disertakan dalam novelnya, yaitu tidak semua pembaca bisa memahami isi novel tersebut. Hal ditunjukkan dengan adanya beberapa kata atau istilah baku yang digunakan. Selain itu, ada beberapa ungkapan yang barangkali cukup gamblang ditulis di sana seperti kisah detail bagaimana Juleha melayani para lelaki hidung belang, dan hal ini cukup mengganggu psikologis pembaca, khususnya anak-anak. Bagaimana pun juga novel ini telah dipasarkan di berbagai toko buku, maka memberi batasan kepada pembaca berdasarkan umur pun perlu diperhatikan. Amazing, Brian!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Musik Pipa Berpotensi Menjadi Ke...
Keteladanan Hidup Jauh Lebih Efe...
Gua Maria Seminari Petrus Van Di...
Renungan Mingguan (Minggu, 15 Ma...
Ibuku Seorang Pelacur dalam Nove...
Kasih Sayang di Mama Kota

Hubungi kami di :

Kirim email ke kami