Pendidikan di Sekolah Tidak Penting (!)

P. Vian Arianto
Dewasa ini, dunia pendidikan di Sekolah mengalami beragam perubahan. Salah satu perubahan yang mencolok ialah anggapan bahwa pendidikan di Sekolah tidak lagi penting. Tesis ini mungkin sedikit/ banyak menggelitik benak banyak orang, khususnya mereka yang menjalani rutinitas di Sekolah, baik itu pendidik maupun peserta didik. Mengapa demikian? Hal ini bisa ditemukan dengan adanya gejala atau fenomena kurangnya rasa cinta terhadap pendidikan itu sendiri.
Rasa cinta yang kurang atau bahkan dangkal itu bisa ditunjukkan dengan kekurangpahaman terhadap hakikat pendidikan itu sendiri. Kekurangpahaman ini kemudian membuat warga Sekolah, baik pendidik maupun peserta didik menjadi apatis, bermalas-malasan, sekadar datang tanpa niat dan prinsip, tidak peka, krisis kepedulian, tidak disiplin, baik dalam hal pikiran, perkataan, maupun tindakan. Selain itu, tampak fenomena “tidak siap” untuk menghidupkan aktivitas belajar dan mengajar di Sekolah. Lebih parahnya lagi, sekadar ada secara badani, tetapi orientasi kesadaran entah kemana dan dimana.
Sikap-sikap negatif yang tampak dalam fenomena-fenomena di atas kiranya perlu diperhatikan secara serius sejak “hari ini”. Fenomena-fenomena tersebut mesti diatasi agar tidak bertumbuh subur dan berkembang biak. Oleh karena itu, penting untuk kembali melihat dan menyimak apa hakikat dari pendidikan tersebut.’
Ada beberapa pemikir (dari sekian banyak), yang tentu saja dari merekalah lahir pemikiran tentang pendidikan. Pemikir-pemikir yang dimaksud antara lain Sokrates, Plato, Aristoteles, John Dewey, dan Ki Hajar Dewantara. Secara sengaja tokoh-tokoh ini disebutkan, karena mereka sangat menjunjung tinggi perihal pendidikan, dan hal itu tampak pula dalam buah pemikiran mereka.
Pendidikan secara etimologis berasal dari bahasa latin yaitu educare, yang berarti “menarik keluar”. Sedangkan, dalam bahasa Inggris, pendidikan berasal dari kata educate menjadi education yang berarti memberi peningkatan atau mengembangkan. Pendidikan juga berasal dari bahasa Yunani paedagogiek atau versi bahasa Inggris disebut pedagogy yang berarti the study of goals dan processes. Secara harafiah, pendidikan dapat dipahami sebagai segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohani ke arah kedewasaan.
Tugas pendidik ialah membantu peserta didik agar cakap dalam melaksanakan tugas hidupnya sendiri secara bertanggung jawab. Pertolongan tersebut mencakup fungsi-fungsi kognitif, afektif, spiritual, dan karakter (tabiat, watak, budi pekerti). Sedangkan, tugas peserta didik ialah aktif memberi diri untuk ditolong dan berusaha menolong diri sendiri secara mandiri.
Ada beberapa pemikir yang menaruh konsentrasi pada pendidikan dalam berbagai karyanya.
1. Sokrates berpendapat bahwa hidup yang tidak direfleksikan ialah hidup yang tidak layak dihidupi. Ungkapan ini cukup terdengar ekstrem, tetapi menjadi dasar betapa pentingnya refleksi diri. Refleksi adalah salah satu cara paling dasariah dan urgen dalam pendidikan. Aktivitas refleksi dapat dipahami sebagai sarana bagi manusia untuk semakin mengenal diri sendiri, relasi dengan orang lain, relasi dengan alam semesta, dan segala hal di luar dirinya. Refleksi tersebut dimulai melalui pertanyaan-pertanyaan kritis atau metode dialektika. Misalnya, siapakah aku? Apa tujuan hidupku? Siapa aku bagi orang lain? Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini berkhasiat untuk menyembuhkan manusia dari kedangkalan.
2. Plato berpendapat bahwa pendidikan ialah proses penemuan kembali atau pengumpulan kembali pengetahuan yang tersembunyi mengenai realitas yang sesungguhnya atau yang dikenal dengan sebutan idea. Manusia yang mengenal dan bahkan mencintai realitas yang sesungguhnya ialah manusia yang bijaksana. Manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur kehidupan seperti bonum (kebaikan), verum (kebenaran), dan pulchrum (keindahan).

Lebih jauh, Plato dalam karyanya The Republic, ia menjelaskan secara terperinci perihal pendidikan. Kita bisa menyebutnya dengan istilah “kurikulum Plato”. Plato berpandangan bahwa pendidikan mesti dimulai dan dialami oleh manusia sejak ia berusia 6-18 tahun, baik laki-laki maupun perempuan. Dalam kurikulumnya, ia menghendaki agar manusia belajar mengenai aritmatika, geometri, astronomi, dan musik.

Aritmatika dan geometri dipelajari harus dari bentuknya yang paling abstrak untuk melatih berpikir jernih dan logis agar manusia mampu memahami hakikat angka secara sempurna. Astronomi harus dipelajari untuk mengenal pola pengetahuan yang lebih tinggi dari setiap bentuk yang sesungguhnya yakni dunia idea sehingga astronomi tidak sekadar mengamati benda-benda langit, melainkan juga tentang memahami keteraturan alam semesta yang sempurna, abadi, dan bergerak dalam lintasan melingkar. Selain itu, musik dipelajari sebagai suatu pengetahuan tentang keharmonisan dan keindahan dalam hidup.
4. Aristoteles berpendapat bahwa pendidikan bersifat liberal yakni membebaskan manusia untuk bergerak maju mencapai potensi tertinggi mereka (pendidikan memanusiakan manusia); menjadi manusia yang baik, dan mengisi waktu luang dengan aktivitas yang berbobot dan berkualitas. Pendidikan juga membawa manusia untuk menjadi berguna bagi masyarakat, dan hal ini selaras dengan pandangannya yang mengatakan bahwa manusia ialah makhluk sosial (relasi dan berinteraksi). Hasil akhir dari pendidikan ialah kebahagiaan atau eudaimonia.
Aristoteles juga melihat pentingnya kurikulum yang bersifat umum, yang didalamnya mencakup pendidikan gimnastik (kesehatan jasmani dan rohani), musik, bakat minat, rasa, estetika (keindahan) etika, filsafat, sains, dan logika. Pentingnya juga memperhatikan pengalaman dan kebiasaan berkarakter yang baik menuju kebahagiaan. Akhirnya, pendidikan itu tidak sekadar penemuan kebenaran, melainkan proses pencarian bagaimana sesuatu itu seharusnya ada dan hidup.
5. Lao Tse dan Confusius (Filsuf China) berpandangan bahwa pendidikan itu penting bagi manusia. Bagi Lao Tse, pendidikan adalah buah kontemplasi (permenungan atau refleksi mendalam tentang kehidupan) sebagai landasan atau dasar perkembangan pikiran dan prestasi yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Sedangkan, Confusius berpendapat bahwa pendidikan berorientasi (terarah) kepada kepentingan bersama dalam masyarakat daripada kepentingan pribadi.
6. Jhon Dewey, seorang filsuf asal Amerika mengemukakan bahwa pendidikan adalah suatu proses pengalaman. Setiap pengalaman manusia menempuh kehidupan fisik maupun rohani. Oleh karena kehidupan adalah pertumbuhan, maka pendidikan merupakan proses yang membantu pertumbuhan batin tanpa dibatasi oleh usia. Proses pertumbuhan tersebut merupakan suatu proses penyesuaian pada setiap fase. Peserta didik yang mengalami pertumbuhkan akan menghasilkan perkembangan pada dirinya.
7. Ki Hajar Dewantara, seorang tokoh pendidikan nasional Indonesia, ia berpendapat bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelektual), dan tubuh fisik anak untuk memajukan kehidupan peserta didik selaras dengan dunianya.
Berdasarkan uraian beberapa pandangan di atas, pendidikan disadari sebagai bagian dari hidup manusia. Pendidikan mesti dicintai dan dipahami. Manusia membutuhkan pendidikan, entah ia sebagai pendidik maupun peserta didik. Pendidikan membawa manusia pada perubahan dan pembaharuan hidup ke arah yang lebih baik. Seperti kata Aristoteles bahwa melalui pendidikanlah manusia dimanusiakan. Rasio dan hati nuraninya diasah dengan sebaik-baiknya, dan hal ini berlaku untuk semua warga sekolah tanpa terkecuali.
Sangat disayangkan jika pendidikan hanya untuk peserta didik, sebab pendidik pun memiliki andil yang besar dalam proses pendidikan yang ada. Selain itu, usaha yang dilakukan secara sadar dan bertanggung jawab oleh orang dewasa (pendidik) melalui pengaruhnya (keteladanan) dapat meningkatkan kedewasaan peserta didik. Dengan demikian peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya, baik rohani maupun jasmani dalam kehidupan bersama di masyarakat. Ia juga bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain.
Perkembangan potensi tersebut dapat dibantu dengan beragam materi pembelajaran yang disiapkan di Sekolah serta keteladanan diri para pendidik. Materi yang diberikan selama proses pembelajaran dapat bermanfaat, apabila pendidik dan peserta didik sungguh mempersiapkannya dengan baik. Prinsip dan niat untuk mengikuti proses pendidikan dengan cinta yang besar dapat berguna bagi pertumbuhan dan perkembangan peserta didik di Sekolah. Dialog multi arah kiranya mesti dihidupkan secara terus menerus agar iklim belajar semakin sehat dan bertumbuh.
Akhirnya, pendidikan di Sekolah tetaplah penting karena diorganisir dengan baik. Pentingnya pendidikan di Sekolah akan dirasakan tatkala pemahaman perihal hakikat pendidikan sudah ditanamkan sejak hari ini, dijalankan dengan penuh kesadaran, reflektif kristis, menikmati proses, dan berjuang menggapai hasil yang dicita-citakan bersama.
Referensi
Plato. 2015. Republic, terj. Silvester G. Sukur. Jakarta: Narasi.
Pohan, Jusrin Efendi. 2019. Filsafat Pendidikan: Teori Klasik Hingga Postmodernisme dan Problematikanya di Indonesia. Depok: Rajawali Pers.
Rahmat, Pupu Saeful. 2022. Psikologi Pendidikan. Jakarta Timur: Bumi Aksara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Asrama Seminari Petrus van Diepe...
Seminari Petrus van Diepen: Ruan...
Pendidikan di Sekolah Tidak Pent...
21 Tahun Berkarya Cor Unum Et An...
Musik Pipa Berpotensi Menjadi Ke...
Keteladanan Hidup Jauh Lebih Efe...

Hubungi kami di :

Kirim email ke kami