Sosialisasi Numerasi SMP Seminari Petrus van Diepen

Mario Akermans
“Keuletan dan ketangguhan sejati bukan datang dari otot atau uang yang kita miliki, tetapi dari pikiran kita, inilah kekuatan pikiran kita yang bisa mengubah halangan menjadi jalan itu sendiri”. Kamis 3 September 2026 SMP YPPK Seminari Petrus Van Diepen mengadakan Sosialisai Numerasi bersama dengan Pak Widy, beliau adalah mantan guru fisika SMP dan SMA Seminari Petrus van Diepen. Lima belas tahun lamanya beliau mengapuh mata pelajaran eksakta seperti Fisika dan Matetika.
Kalau mau dikatakan, beliau adalah legenda hidupnya seminari ini. Hari ini beliau datang mengunjungi seminari dengan membawa serta satu paket ilmu menarik,  dengan tema yang berbeda yaitu Sosialisasi Numerasi bersama-sama dengan para guru dan kepala Sekolah SMP Seminari Petrus Van Diepen. Sebagaimana apa Pak Widy mensharingkan banyak hal terkait mengahadapi anak-anak yang belum lancar pada mata pnelajaran Matematika. Terlebih anak-anak yang datang dengan latar belakang yang berbeda sehingga cukup sulit untuk memajukan materi-materi pada bab-bab berikutnya.
Berlandaskan niat, usaha, dan juga kecintaan terhadap anak didik sehingga beliau membuat sebuah metode belajar yang baru pada anak didik. Menggunakan tahapan-tahapan yang baik sehingga mampu untuk menumbuh kembangkan pemahaman pada anak sehingga mereka menghadirkan sebuah kencintaan terhadap pelajaran Matematika yang dianggap membosankan itu. Pak Widy menggunakan tahapan-tahapan yang baik yakni mengunakan tes dan juga Latihan-latihan soal serta mengadakan kuis-kuis matematika yang lebih bermutu dan mudah bagi anak-anak.
Hal ini tentu bisa membangkitkan semangat dan minat anak didik dalam mempejari Matematika secara lebih mendalam. Beliau mengatakan bahwa sekiranya kita sebagai seorang guru sekurang-kurangnya harus mampu untuk memamerkan Ilmu yang kita punya, sehingga mampu menumbuhkan daya Tarik bagi anak-anak, namun trik nya yang harus dirubah bukan mengunakan cara ngajar yang lama, melainkan harus kreatif dari seorang guru pada murid. Guru yang kreatif menghadirkan inovasi belajar yang positif sehingga melahirkan seorang murid yang cerdas, kreatif dan inovatif.
Pengalaman, usaha dan niat dari sang guru legend, menimbulkan sebuah pertanyaan baru dari guru-guru yang lain. Beliau mengatakan bahwa hal dasar yang harus dimulai ialah penjumlahan dan perkalian, kita harus membagi mereka ke dalam dua kelompok besar yakni kelompok (A) yang dasar penjumlahan dan perkalian sudah lancar dan Kelompok (B) yaitu untuk mereka yang belum lancar sama sekali. Setelah ini dibagi waktu pembelajaran dengan mereka, sebagaimana kelompok (A) waktu belajar mereka seminggu sekali, dan kelompok (B) waktu belajar mereka dua minggu sekali. Ketika proses pembelajaran ini dilakukan secara tekun maka kita akan menerima hasil yang luar biasa dari anak-anak yakni akan ada perkembangan yang baik.
Sosialisai Numerasi oleh Pak Widy kepada para guru dan kepala sekolah. Telah memberikan sebuah pembelajaran yang baik, sebagaimana melalui pertemuan ini mampu menyadarkan pada kita betapa pertemuan yang singkat jauh lebih mendalam dibandingkan dengan pertemuan yang sudah direncankan. Sebagaimana pertemuan yang singkat mampu memberikan sebuah ransangan berupa kerinduan untuk kembali bertemu dan membahas hal yang baru. Namun jauh dari pada itu, ada sebuah penerapan dari Filosofi Teras dalam parenting adalah menyadari pentingnya anak tumbuh dengan pengalaman sosialisai yang memadai antara lain adalah Interpesona Skill, atau keahlian hubungan antar manusia sering kali dianggap sebagai soft skill, keahlian matematika, fisika, bahasa inggris, dan lain-lain.
Walaupaun keahlian-keahlian dalam aspek kognitif tetaplah penting, semakin banyak orang setuju bahwa kemampuan berinteraksi sosial dan bekerja sama dengan orang lain adalah faktor yang tidak kalah penting dalam menjujung kesuksesan seseorang. 2. Mengajarkan dikotomi kepada anak adalah satu hal, tetapi menerapkan ke diri sendiri adalah hal lain lagi. Menerapkan dikotomi kendali tidak hanya sekedar urusan memahami hal-hal mana yang ada di luar kendali kita, tetapi juga kerelaan untuk “melepas ilusi kendali” tersebut. Sebagai orang tua dan guru, rasanya melepas sebagai kendali menyangkut anak adalah hal yang sulit dilakukan namun kita pun harus melalui ujian tersebut. Ini mungkin bisa menjadi sebuah jawaban terhadap tingginya kekhawatiran bahwa ada Sebagian hal tentang anak di dalam kendali kita, ada Sebagian yang tidak di dalam kendali kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Hari Kedua, Mahasiswa Teknik Ele...
Saint Paul Sorong Berbagi Kasih ...
Sosialisasi Numerasi SMP Seminar...
Staf Guru dan Tendik SMP-SMA Sem...
Pagi Ceria Warnai Hari Pertama M...
Pak Yan Sedik dan Kepeduliannya ...

Hubungi kami di :

Kirim email ke kami